08 Juli 2008

Etika Menelpon, Hmmm...


Masih soal telpon neh..
Kesel engga sih kalo ada yang nelpon begitu diangkat, ga ada yang ngomong. Baru ditutup dah bunyi lagi. Diangkat lagi, dieeeem lagi. Begitu dan begitu seterusnya... 

Mangkel bener, sampai tak samperin tuh kemaren. Kebetulan yang nelpon ga jauh-jauh amat rumahnya. Tapi belum juga sempat menumpahkan unek-unek, yang punya rumah udah nerocos duluan. "Waah kebetulan kesini, mas. Baru mau disusul. Mau minta tolong betulin telpon rumah. Kalo dipake ga keluar suaranya...."

"Ula marani gebug neeeh..." gerutu saya dengan lemes sambil bengong. Padahal sebelum kesitu udah nyari referensi duluan ke berbagai webset tentang etika menelpon yang baik dan benar. Daripada mubazir saya posting saja lah buat temen-temen:

Etika menelepon : 

1. Ceklah dengan baik nomor telepon yang akan anda hubungi sebelum anda menelpon. Ini maksudnya agar anda tidak salah orang atau salah sambung. Sebel kan, kalo telpon bunyi begitu kita angkat diseberang sana bicara gini, "Halo... bisa bicara dengan salah sambung..."

2. Pilihlah waktu yang tepat untuk berhubungan via telepon, karena manusia mempunyai kesibukan dan keperluan pribadi. Kecuali ada hal darurat misalkan mengabarkan berita kematian atau ada yang sakit. Enak engga sih tengah malem pas waktunya tidur pules ada yang nelpon cuma mau nanya, "Udah bobo ya.. jangan ngiler lho.."

3. Bila menelpon sebutkan identitas terlebih dulu, kecuali nelpon ke HP temen yang biasanya udah ketahuan itu nomer kita. Bila menggunakan nomer asing atau ke telpon rumah jangan sampai kita menelpon trus nanya, "siapa disitu..?" Lho... yang nelpon mau nyari siapa...?

4. Bila menelpon trus tidak diangkat, jangan biasakan memanggil terus-menerus. Bisa saja yang kita hubungi sudah tidur atau sedang "ketanggungan" dan kelupaan mematikan HP sebelumnya. Ini sangat mengganggu aktivitas orang lain. Tunggu beberapa menit atau beberapa hari baru mencoba menghubungi lagi. Apalagi kalo jawabannya, "Nomor yang anda tuju tidak bisa dihubungi.." 
Jangan nekat deh. Kalo napsu banget pengen nelpon, mendingan yang barusan jawab saja yang diajak ngobrol.

5. Jangan memperpanjang pembicaraan tanpa alasan, karena khawatir orang yang sedang dihubungi itu sedang mempunyai pekerjaan penting atau mempunyai janji dengan orang lain. Budaya ewuh pekewuh bangsa timur biasanya kurang enak untuk memutus pembicaraan walaupun kurang nyaman. Kecuali kalo anda sedang bicara dengan mesin penjawab atau mailbox.

6. Tidak memakai telpon orang lain kecuali seizin pemilik-nya karena telpon apalagi ponsel sekarang sudah menjadi barang yang sifatnya privacy. Apalagi kalo kita pinjem hp temen untuk melempar anjing atau masang paku di dinding. Dan yang penting bila terpaksa sekali meminjam telpon, ucapkan terima kasih dan segera dikembalikan. Jangan langsung dimasukin kantong ya...

Duh.. 
Masih banyak sebenarnya yang harus saya tuliskan itung-itung kuliah subuh di pagi hari ini. 
Tapi maaf, dah cape ngetik neh.. 
To be continued ya... berkabung lah...

4 comments:

  1. wakakakkaka..., kalo denger kalimat "Halo... bisa bicara dengan salah sambung..." saya cuma bisa garuk-garuk kepala kalo saya sih bakalan jawab.., ya betul disini salah sambung ada yg bisa saya bantu...wakakkaka...., kaburrrrrrrr... :P

    BalasHapus
  2. Hihihi... pengalaman yak?

    BalasHapus
  3. halo...bisa salah ngambung?

    BalasHapus
  4. Hallo..

    "Nomor yang anda tuju sedang berhubungan badan, cobalah 2 jam lagi"

    BalasHapus

Sebelum membaca jurnal ini mohon untuk membaca Disclaimer dari Blog Rawins. Memberikan komentar dianggap telah menyetujui Disclaimer tersebut. Terima kasih

© 2011 Rawin, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena